DRX Kembali Berjaya! Sukses Taklukkan T1 di Grand Final VCT Pacific Kickoff 2025

Kabar menggembirakan datang dari dunia esports Valorant, di mana tim asal Korea Selatan, DRX, berhasil menjuarai VCT Pacific Kickoff 2025 pada Minggu (9/2). Kemenangan mereka atas T1 dalam laga sengit membuktikan bahwa generasi baru DRX mampu melampaui pencapaian pendahulunya. Keberhasilan ini menjadi pencapaian besar bagi Kim “MaKo” Myeong-Kwan yang kini menjadi satu-satunya veteran tersisa dalam skuad.

Meskipun harus mengakui keunggulan DRX, T1 tetap memberikan perlawanan sengit dengan skuad bertabur bintang seperti Meteor, Stax, Buzz, Izu, Sylvan, dan Carpe. Pertandingan final berlangsung dengan format best of five (BO5) dan dimainkan di lima peta, yakni Abyss, Lotus, Fracture, Bind, dan Split. Sebagai tim dari upper bracket, DRX memiliki keuntungan dalam pemilihan peta.

Pertandingan dibuka dengan dominasi DRX di Abyss, yang berakhir dengan kemenangan telak 13-3. Namun, T1 bangkit di game kedua di Lotus, berhasil menyamakan kedudukan dengan skor 13-6. Memasuki Fracture di game ketiga, DRX tampil solid dan mengamankan kemenangan 13-9 meskipun T1 sempat memberikan perlawanan di babak kedua.

Laga semakin menegangkan saat memasuki Bind pada game keempat. DRX sempat unggul, tetapi T1 tidak menyerah dan memaksakan extra round, akhirnya menang 14-12 dan membawa pertandingan ke game penentuan. Di Split, DRX kembali unggul di first half dengan skor 7-5. Meski T1 sempat mengejar, DRX akhirnya menutup pertandingan dengan kemenangan 13-11, memastikan gelar juara VCT Pacific Kickoff 2025 dan mengakhiri puasa gelar mereka sejak 2022.

Ngejoki di Valorant: Faktor Utama Terhambatnya Regenerasi Pemain Esports di Indonesia

Popularitas game FPS PC Valorant di Indonesia cukup besar, meski di tengah dominasi game mobile. Valorant mampu berkembang menjadi skena esports yang stabil dan menjanjikan. Namun, regenerasi pemain baru masih menjadi masalah di berbagai turnamen lokal, dengan dominasi pemain lama yang mendominasi panggung kompetitif. Sebagai contoh, pada Indonesian Final Road to Asia Pacific Acer Predator League 2025, empat tim yang berpartisipasi sebagian besar diperkuat oleh pemain-pemain veteran. Minimnya regenerasi ini menyebabkan terbatasnya bakat baru yang masuk ke dunia pro dan bisa memengaruhi masa depan skena esports Valorant di Indonesia.

Beberapa pemain Valorant profesional berbagi pandangan tentang penyebab terbatasnya regenerasi ini. Dalam wawancara dengan Esports.ID, terungkap bahwa salah satu faktor adalah aktivitas “ngejoki” yang diminati banyak pemain berbakat.

Daffa dari tim LFM menyebut bahwa banyak pemain yang memilih ngejoki, yaitu memainkan akun orang lain dengan bayaran, ketimbang memasuki ranah kompetitif. “banyak yang lebih memilih menjadi joki. Kalau memang jago, seharusnya buktikan di pro scene, bukan jadi joki. Mungkin mereka merasa ngejoki lebih menguntungkan, tapi rasanya sayang potensi mereka dihabiskan begitu saja,” ungkap Daffa.

Ray4c dari Alter Ego juga mengomentari fenomena ini. Ia menjelaskan bahwa banyak yang tergoda menjadi joki karena bayaran yang besar, bahkan melebihi gaji pemain pro. “Banyak yang bilang ngejoki lebih menguntungkan secara finansial dibanding jadi pro player,” ujarnya. Meski demikian, Ray4c menyatakan bahwa ia tidak tertarik untuk ngejoki, walaupun pendapatannya mungkin lebih tinggi.

Pemain Bigetron Arctic, Frostmind, juga memberikan pendapatnya. Ia menyebut bahwa pemain yang tertarik jadi joki biasanya tergiur oleh pendapatan yang lebih cepat. “mencapai barisan di tim esport profesional sangat susah,dan cuma beberapa aja yang bisa mencapai nya. Banyak yang memilih jalur joki karena lebih menjanjikan secara finansial,” katanya. Frostmind sendiri menolak menjadi joki karena ingin diakui sebagai pemain Valorant terbaik melalui prestasinya di turnamen. Bagi Frostmind, karir profesional memiliki nilai yang lebih dari sekadar uang.

Fenomena joki bukan hal baru di dunia esports. Aktivitas serupa juga terjadi di game lain seperti DOTA 2, Mobile Legends, dan lainnya. Solusi untuk meningkatkan minat pemain baru dalam meniti karir sebagai pro player adalah memberikan dukungan yang lebih baik bagi mereka untuk memasuki panggung kompetitif dan menciptakan peluang pendapatan yang menarik. Jika komunitas dan tim esports dapat mendorong lebih banyak pemain berbakat untuk bergabung dan bertahan di dunia kompetitif, regenerasi talenta akan lebih terbuka dan berkelanjutan.